Yeayy, Kanisya is turning 1!!

Kapan lahirannya yaa kok tau-tau udah setaun aja? heheheh beginilah klo males nulis lagi. Ga sempet dan ga pernah ada kesempatan tepatnya. Nulis dari hp atau tab ga enak, nulis dari laptop mesti nunggu para krucils tidur dulu, atau bisa dirusuhin abis. Yang gede mencet-mencet keyboard, yang kecil ikut-ikutan, nulisnya? Bubar jalan, hahaha..

Walaupun saya ga sempat tulis tentang kelahiran Kanisya disini, tapi keterangan tentang Kanisya ada di sini ya. Dan tepat tanggal 4 Juni 2014 lalu, Kanisya pas berusia 1 tahun. Yeayyyy my baby is getting toddler!!! Ga ada perayaan besar-besaran kayak jaman Dika ultah setaun, ga ada kado heboh (malahan belum dikasih kado sampai sekarang, hehe, blm sempet beli yang pas), cuma bagi-bagi bingkisan sama nasi kuning ke tetangga dan adik-adik temannya Dika yang seumuran Kanisya. Aduuhh kasian banget ya anak kedua. Eh, tapi saya begini bukan karena ga adil sama Kanisya lho, tapi karna pengalaman waktu Dika ultah setaun. Udah capek-capek bikin ini itu, undang saudara dari papanya anak-anak, beliin kado yang lumayan mahal untuk anak seumuran dia, ehh Dikanya sendiri sih sebenernya masih belum ngerti, belum keliatan hepi juga. Jadi yah, belajar dari pengalaman untuk bisa lebih bijak ambil keputusan, hehhee..

Ceritanya dari beberapa hari sebelumnya saya udah sibuk cari bingkisan via online. Males ngubek-ngubek toko atau sampai ke daerah Kota segala. Mending saya ngubek-ngubek internet, bisa sambil nyusuin Kanisya, sambil nemenin Dika main, atau sambil nemenin suami nonton. Saya juga ga mau kasih bingkisan yang isinya snack seperti biasa, alasannya adalah kasian anak-anak atau para bayinya dong, mereka kan belum bisa makan snack kayak gitu, tar yang ada ya dikasih mbanya atau orang tuanya. Untuk urusan beginian saya emang paling doyan, hihihi, mengorganize segala sesuatu. Tentuin tema, tentuin budget, pilah pilih barang dan ga mau yang pasaran, bandingin harga terbaik, dan proses ini memakan waktu 2 minggu sendiri. Hihihii.. Sok perfeksionis banget yah. Dan yang pasti jangan kelupaan, minta ijin suami dulu terutama soal budget. Biar selanjutnya pak bos tinggal transfer ajah, dengan sedikit kompromi juga soal barangnya. Klo ini memang udah kebiasaan kami berdua, milih barang apapun mesti diskusi dulu, klo udah setuju dua-duanya baru deh dipesan.

Akhirnya saya memutuskan kasih bingkisan yang isinya mug motif strawberry dengan tulisan ultah Kanisya, pesan di Instagram @lollipopdesain dan tempat pensil strawberry handmade pesan di Instagram juga @nietaskain. Yak, saya suka surfing di Instagram, hhihii. Alasan memilih dua barang itu karena lebih bermanfaat, lebih cantik, lebih everlasting, dan ga pasaran pula, hhe. Oh iya, saya pakai tema strawberry iseng aja, biar ada temanya, ga ada alasan khusus.

Bingkisan yang sudah dipakin semalam sebelumnya. Cantik yaa warna warni :)

Bingkisan yang sudah dipakin semalam sebelumnya. Cantik yaa warna warni 🙂

Nasi kuning buatan Oma Evan. Lumayan buat makan malam juga, enaak..

Nasi kuning buatan Oma Evan. Lumayan buat makan malam juga, enaak..

Cake kecil untuk tiup lilin Kanisya, beli di Famansa Cake dekat rumah.

Cake kecil untuk tiup lilin Kanisya, beli di Famansa Cake dekat rumah.

Mug strawberry dan tempat pensil strawberry. I love it!

Mug strawberry dan tempat pensil strawberry. I love it!

Ceritanya seharian saya sibuk sendirian. Iya sendirian. Di rumah kan ga ada pembantu, cuma bibi pulang pergi. Dan kebetulan ibu dan ibu mertua saya lagi ke Jember nengok mbah Uti yang sedang sakit. Untungnya untuk pengepakan souvenir sempat dibantu suami semalam sebelumnya. Sok kuat banget yah saya ngurus sendirian. Dari pagi anter Dika ke sekolah, pulang ngurus Kanisya sama diri sendiri, trus jemput Dika pulang sekolah, langsung ambil nasi kuning yang saya pesan ke Omanya Evan di tetangga Simprug, sampai rumah ngurusin anak-anak makan siang, langsung masuk-masukin nasi kuning yang mesti dibongkar pasang 3 kali karna salah urutan (cuma karna perfeksionis, hehee), trus lanjut keliling bagi-bagiin bingkisan pakai mobil bertiga sama Dika di kursi depan dan Kanisya di carseatnya, selesa udah jam setengah 6 sore, suami udah pulang, dan masih harus siapin meja makan untuk perayaan kecil berempat. Capek ga? Banget!!! Sumpah pegel banget!! Apalagi naik turun mobil bolak balik dari pintu ke pintu kasih bingkisan. Hahahahaa sok kuat sih sayaa, tepar juga sampai rumah, hehehe..

Dan setelah sholat Isya, dimulailah perayaan kecil-kecilan berempat. Kanisya tiup lilin (dibantu Dika), trus foto (wajib) keluarga. Trus, makaaann.. Makanannya pun simpel ajah. Nasi kuning buatan Oma, sama pizza (gratisan) dari PHD yang kasih voucher gratis karna pernah telat deliverynya, hehe. Berdoanya? Ohh itu udah doong dari Subuh. Semua doa terbaik untuk Kanisya. Semoga tumbuh jadi anak yang cantik, cerdas, solehah, dan bercahaya seperti namanya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu surga bagi orang tuanya. Semoga kehidupannya selalu diliputi kebahagiaan, panjang umur, kesejahteraan, dirahmati dan diberkahi Allah Swt. Semoga disayangi banyak orang dan menyayangi banyak orang terutama keluarga. Aammiinnn yarabbal alamin.. And please welcome, our cute birthday girl, Kirana Adkanisya Firdausi… ^_____^

Kirana Adkanisya Firdausi - Jakarta, 4 Juni 2010 -

Kirana Adkanisya Firdausi
– Jakarta, 4 Juni 2010 –

Kanisya dan Mas Dika ^_^

Kanisya dan Mas Dika ^_^

Advertisements

Hallo 2015!!!!

Haaloooo 2015!!! Assalammualaikum..

Hahahahah telat banget ya mau nyapa 2015. Udah lamaaaaaaa banget saya ga nulis lagi disini. Banyak cerita yang terlewatkan, tapi yasudahlah jadi cerita pribadi aja. Sekarang harus pintar untuk milah-milah mana yang mau ditulis dan mana yang harus jadi konsumsi pribadi aja. Makin bijak dalam dunia maya. Tsah bahasaku kayak udah yang paling bijak aja, hahaha..

Slalu bersyukur makin bersyukur atas kehidupan yang diberikan Allah Swt sampai sekarang dan seterusnya. Semoga keluarga kami slalu dirahmati dan diberkahi oleh-Nya. Pas banget sekarang bulan Ramadhan hari ke-6. Smoga semakin banyak kebaikan yang ada di muka bumi ini. Dan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga ibadahnya diterima Allah Swt, dipermudah dalam menjalaninya, terampuni dosa-dosanya, dan bisa kembali fitri kembali di Idul Fitri nanti. Wassalammualaikum… ^_^

Segitu pentingnya resep dokter?

Keluarga saya punya prinsip bahwa obat dokter apapun itu harus digunakan sesuai resep dokter. Berarti untuk mendapatkannya pun harus dengan resep dokter. Kami bukan dokter, tapi menurut kami obat adalah benda yang harus digunakan dengan tepat. Jika dosisnya tepat akan membawa kebaikan yaitu kesembuhan. Tapi jika dosisnya tidak tepat akan membawa mala petaka. Ga percaya? Pasti banyak yang ga percaya deh.

Mirisnya, di kehidupan sekitar kita, bahkan mungkin teman-teman kita sendiri banyak yang merasa sudah hebat ketika bisa mengetahui semua jenis obat baik obat bebas maupun obat dengan resep dokter. Sehingga ketika mereka sakit, ya langsung beli aja obat di apotik, daripada harus bayar dokter lagi, pikir mereka.

Kalau yang dibeli obat bebas sih ga papa ya. Tapi kalau yang dibeli itu obat yang seharusnya dengan resep dokter, apalagi antibiotik, aduh, tepok jidat deh saya. Kenapa sih mereka sePD itu untuk beli obat sembarangan.

Padahal yaa..sepengetahuan saya, dokter itu meresepkan obat pada tiap orang itu beda. Tiap orang punya dosisnya masing-masing sesuai kondisi tubuhnya. Jangankan tiap orang deh, pada orang yang sama aja bisa beda dosis lho, ketika mereka sakit di waktu yang berbeda.

Seharusnya kita menghargai profesi dokter yang udah susah payah belajar untuk mengabdikan jasanya pada kita, membantu menyehatkan orang yang sakit. Mereka jauuuh lebih tahu dari kita yang mungkin baru tahu nama-nama obat itu ya berdasar pengalaman berobat sekali dua kali aja.

Yahh mungkin orang berpikir ga papa toh ga usah pake resep dokter, ujung-ujungnya bisa sembuh juga. Nah, sekarang sih sembuh, tapi kita ga tahu kan seberapa besar efek negatifnya ke tubuh kalau mengkonsumsi obat dokter tanpa dosis yang tepat.

Uhmm..tulisan ini hanya bentuk kekecewaan saya terhadap orang-orang yang masih seenaknya aja beli obat dokter tanpa resep. Jangan dijadikan patokan ya, karena saya menulis tanpa referensi, hanya berdasarkan penilaian saya pribadi. Kalau ada yang tersinggung mohon dimaafkan. Cuma ingin berbagi prinsip, siapa tahu prinsip yang saya jalani ini bisa memberi manfaat bagi yang membaca.

Sekian.. Dan smoga cepat sembuh bagi yang sedang sakit 😊

Review sekolah toodler untuk Dika

Sejak pertama kali pindah ke rumah Cikarang, saya udah niat banget mau cari sekolah untuk Dika. Banyak orang pasti bertanya-tanya, “Emang umurnya Dika berapa sih?”, “Kecil-kecil kok udah sekolah?“. Whatever they say, yang jelas saya punya pandangan dan pemikiran sendiri tentang sekolah untuk Dika, dan sebagai orang tuanya saya punya hak donk ya untuk merancang bagaimana pendidikannya sejak dini, tentunya dengan melihat dimana minat Dika, apa yang dia suka, dan dimana tempat yang membuatnya nyaman.

Lagipula penggunaan kata “sekolah” itu sendiri ga harus melulu dikaitkan dengan belajar baca, tulis, hitung. Tapi juga bisa dikaitkan dengan belajar bersosialisasi, belajar sambil bermain (misal membuat prakarya), atau belajar berperilaku baik dan teratur dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah seperti ini yang saya maksudkan untuk Dika. Sekarang ini juga para guru dan orang tua sudah semakin pintar kok untuk bisa memilah materi apa yang cocok untuk anak sesuai dengan usianya.

Jadi, terlepas dari semua komentar orang yang mungkin ga mendukung seratus persen, saya tetap maju jalan untuk mencari sekolah yang paling tepat untuk Dika. Setelah saya survey sana sini, saya mendapatkan beberapa pilihan yang sesuai dengan kriteria saya. Cukup kaget juga kalau melihat nominal uang sekolahnya. Jaman sekarang sekolah usia dini aja muahalnya udah nyaingin uang kuliah jaman saya kuliah dulu. Bahkan mungkin uang sekolah kelas toodler atau pre school bisa lebih mahal daripada SD negeri di daerah yang sama.

Perihal uang sekolah yang mahal ini, saya sih lebih melihatnya sebagai hal yang positif. Alat bantu yang dipakai, kesabaran guru pendamping, dan juga skill plus plus yang dibutuhkan guru kelas toodler atau pre school pastinya jauh lebih banyak atau lebih besar dibanding guru untuk anak sekolah dasar. Jadi biaya yang dibutuhkan lebih besar. Yah, asal ga mengganggu stabilitas keuangan keluarga tiap bulannya sih Insya Allah ga papa ya untuk bekal Dika di masa depan.

Berikut ini nama sekolah yang di dalamnya tersedia kelas toodler atau pre school berdasarkan hasil survey saya di sekolah-sekolah daerah Jababeka dan Lippo Cikarang :

1. Kelas toodler di Sekolah Islam Al Azhar 12, Jababeka

Kelebihan : Al Azhar adalah sekolah tujuan utama kami. Mengingat reputasinya sebagai sekolah Islam yang sudah terkenal dimana-mana, dan masih sulitnya mencari sekolah usia dini yang kualitasnya bagus di daerah Cikarang. Bangunannya juga besar. Lengkap dari playgroup sampai SMP. Mesjid besar sedang dibangun. Sepertinya Al Azhar masih akan terus mengembangkan fasilitas sekolahnya.

Kekurangan : Tapi sayangnya, Al Azhar sangat kaku dengan peraturan usia minimal 3 tahun untuk awal sekolah usia dini (kelas Toodler). Untuk anak-anak seperti Dika yang kelahiran setelah bulan Juli (Dika lahir November) akan sering dirugikan dengan kekakuan peraturan ini. So, kami ga bisa sekolahin Dika di Al Azhar untuk tahun ajaran 2013/2014 karena usianya masih kurang dari 3 tahun (padahal cuma kurang 4 bulan, hih). Selain itu, biayanya mahil banget book untuk ukuran playgroup, sayang banget ah. Coret langsung Al Azhar.

Respon Dika  : Belum sempat lihat bagaimana responnya. Karna waktu saya datang untuk nanya informasi, penerimaan gurunya terlalu formil dan ga mengizinkan anak untuk melihat-lihat kelas atau permainan yang tersedia.

2. Kelompok Bermain di Spring Garden School, Jababeka

Kelebihan : Bangunannya besar dan bagus. Lengkap dari playgroup sampai SD. Banyak rekomendasi juga dari beberapa kenalan. Paling dekat jaraknya dari rumah. Bahasa pengantar memakai bahasa Indonesia, tapi anak tetap akan diajarkan bahasa Inggris secara bertahap. Playgroundnya besar, sangat terawat, dan permainannya banyak. Menerima anak usia kurang dari 3 tahun untuk masuk kelas Kelompok Bermain (anak titipan), dengan catatan orang tua bersedia anaknya di kelas KB 2 tahun, atau di TK-A 2 tahun. Untuk biaya masih cukup terjangkau. Memang lebih mahal dibanding playgroup biasa (walopun tetep Al Azhar yang termahal), tapi sepadan lah dengan fasilitas dan kualitas pengajarnya.

Kekurangan : Kategori sekolah umum, jadi ga ada pembelajaran khusus tentang Islam seperti di Al Azhar. Jam sekolah untuk KB masuk tiap hari, kasian juga yaa masuk tiap hari. Bisa pilih kelas pagi (jam 07.30-10.00) atau kelas siang (jam 10.00-12.30).

Respon Dika  : Guru (bahkan kepala sekolahnya) mengizinkan Dika untuk mencoba permainan di playground. Mereka juga mencoba mendekati anak dengan cukup luwes. Dika juga sempat ikut trial class. Awalnya Dika nangis karna takut melihat miss (panggilan untuk gurunya). Tapi waktu liat banyak mainan, Dika langsung minta main dan miss mengizinkan dia melakukan apa saja yang dia suka di dalam kelas. Supaya Dika bisa kenal lingkungan dan nyaman dulu dengan kelasnya. Tiap naik mobil lewat sekolah ini Dika selalu nunjuk-nunjuk sambil bilang “sekolah Dika”.

3. Kelas Nursery di Kiwi Kids, Jababeka

Kelebihan : Sekolah ini lumayan bagus sih dari segi materi pembelajaran dan fasilitas bermain. Seragamnya juga lucu, colourful, polkadot, enak deh diliatnya. Usia kurang dari 3 tahun masih diterima, karna bisa masuk kelas Nursery (2-3 tahun). Masuk sekolah seminggu 3 kali, jadi ada waktu istirahat. Dari segi biaya hampir sama dengan di Spring Garden. Kalau dihitung detail lebih mahal di Kiwi Kids. (Berarti mending Spring Garden ya, fasilitas jauh lebih banyak, biaya lebih murah sedikit dari Kiwi Kids).

Kekurangan : Bangunannya kecil, hanya rumah sekitar tipe 70 yang diubah menjadi sekolah. Playgroundnya hanya sedikit permainannya dan kurang terawat. Kondisi kelas yang kecil juga kurang terawat, sehingga terlihat agak berantakan. Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Kenapa saya anggap ini kekurangan? Karna saat saya survey sekolah ini, bicara Dika belum begitu lancar. Saya khawatir kalau bicaranya belum lancar dan sudah dicekoki bahasa Inggris, justru akan bikin dia jadi bingung. Jadi saya mau yang bertahap aja. Selain itu, secara ga sengaja saya melihat jadwal kegiatan tahunan, dimana ada perayaan Valentine’s Day di tanggal 14 Februari, papanya Dika langsung say no deh untuk sekolah ini. Maklum aja, sejak dulu papanya Dika memang ga pernah mau ikutan acara ginian. Karna bukan budaya Muslim. Apalagi untuk Dika yang masih batita. Takutnya Dika akan menganggap Val’day itu harus dirayakan. Yaahh jaga-jaga aja demi kebaikan anak. Agar ga ada kesalahan dalam menanamkan kebiasaan sejak dini. Coret langsung Kiwi Kids. Karna papanya Dika langsung bilang ga.

Respon Dika : Saat saya sedang ngobrol dengan kepala sekolahnya (yang amat sangat membanggakan sekolah ini), Dika diizinkan untuk bermain di playground dan dia senang. Tapi sayangnya Dika ga boleh ikut trial class sebelum benar-benar mendaftar. Jadi belum tau responnya di sekolah. Tiap kami naik mobil lewat Kiwi Kids, Dika slalu inget dan nunjuk-nunjuk sambil bilang “sekolah..sekolah”.

4. Kelas 2-3 di Tumble Tots, Lippo Cikarang

Kelebihan : Ga tahu kelebihannya apa, hehe. Cuma karna dulu waktu di Jati Asih, Dika pernah ikut kelas baby di Tumble Tots (karna disana ga ada sekolah lain untuk baby). Mungkin tingkatan kelas yang bervariatif bisa jadi kelebihan. Karna menyediakan kelas mulai dari baby sampai TK.

Kekurangan : Biaya bulanan di Tumble Tots lumayen mahel, dengan kegiatan yang hanya berfokus pada motorik kasar saja. Waktu masih di kelas baby mungkin masih worth it lah ya, karna umur di bawah 2 tahun anak baru mengembangkan motorik kasar aja, jadi sudah cukup lah di Tumble Tots. Tapi untuk anak usia di atas 2 tahun sudah perlu pengembangan motorik halus. Jadi sayang aja kalau saya ambil di Tumble Tots dengan biaya yang sama dengan di Spring Garden atau Kiwi Kids, tapi pembelajaran yang didapat disini sedikit banget. Lokasinya juga jauuh, di Lippo Cikarang, hehe.. Cuma setengah jam sih dari rumah klo ga macet, kalo macet bisa sejam. Kasian ah Dikanya. Kalo ada yang lebih deket dan lebih bagus, ngapain pilih yang jauh. Coret juga ah Tumble Totsnya.

Respon Dika  : Ga tau responnya gimana, karna ga ada trial class dan ga ada playground yang bisa dicoba. Dulu sih waktu di kelas baby dia seneng-seneng biasa aja. Mungkin karna dulu belum terlalu ngerti lingkungan sekitar kali yaa,

5. Kelas Pre School A di Little Bee Moslems, Lippo Cikarang

Kelebihan : sekolah Islam dari playgroup sampai TK. Sempat lihat jadwal kegiatannya juga bagus banget. Tiap hari diajarin doa-doa, tiap Jumat sholat berjamaah. Biaya amat sangat terjangkau, bisa dibilang yang paling murah diantara sekolah yang saya review.

Kekurangan : Masih ragu bisa menerima Dika atau ga, karna usianya kurang dari 3 tahun. Bangunannya kecil, hanya satu ruko. Kelasnya pun cuma dua dan disekat papan kecil. Lebih mirip TPA sih sebenarnya daripada sekolah. Lokasinya di Lippo Cikarang dan masih jauuuuuuhh lagi ke daerah bagian belakang Lippo. Kasian Dikanya kalo kejauhan. Kayaknya alamat dicoret juga nih.

Respon Dika : Belum sempat bisa melihat bagaimana responnya, karna kami belum ada kesempatan untuk kunjungan kedua sambil minta trial class.

6. Kelas Junior di Tumblerina Jr, Jababeka

Kelebihan : ada kelas Junior untuk yang masih 2 tahun. Playgroundnya lumayan, tapi ga sebesar Spring Garden. Biaya lumayan terjangkau, di bawah Spring Garden dan Kiwi Kids.

Kekurangan : Kelasnya sedikit dan sempit. Guru dan kepala sekolahnya kurang welcome waktu kami datang. Feelingnya udah ga nyaman deh disitu. Sempat lihat ada anak playgroup main tablet di playground. Ya ampun nak, itu di sekelilingmu banyak teman-teman dan permainan, kok dia malah sibuk sendiri ya. Sayangnya guru ga melarang atau negur anak itu untuk ga bawa tablet ke sekolah. Ckckck..

Respon Dika : Sempat coba main di playground, tapi cuma sebentar. Biasa aja tuh responnya, hehe.

Nah, dari sekian pilihan di atas, berdasakan hasil pertimbangan dan rembugan antara saya dan papanya Dika, maka kami memutuskan pilihan sekolah Dika adalah “KELOMPOK BERMAIN di SPRING GARDEN SCHOOL”. Hihihi,,udah ketebak yaa. Walopun masih ada yang agak ganjel sih, soal pendidikan Agama Islam itu. Karna sayang golden age’nya kalo ga dikasih pendidikan Agama Islam.

Yaahh solusinya sih antara Dika nanti TK baru pindah ke Al Azhar, atau waktu SD cari TPA (Taman Pendidikan Agama) untuk dia ngaji sore harinya. Soal jam sekolah, kami ambil siang biar Dika dan mamanya lebih santai, ga grabak grubuk pagi-pagi. Kalau Dika lagi capek sekolah karna masuk tiap hari, yaa bolehlah dia sekali-sekali ga masuk. Oiya, soal anak titipan itu cuma nama doang ya. Jadi Dika tetap sama dengan yang lainnya. Pake seragam, bermain dan belajarnya sama, dan hampir 50% murid KB itu anak titipan alias kurang dari 3 tahun. Keuntungannya kami ga perlu bayar biaya tahunan dulu, karna anak titipan akan ada pengulangan di KB atau TK. Lumayann..2,500k masuk kantong lagi =p

Tiap orang tua pasti punya pilihan masing-masing sesuai kriteria yang mereka mau. Hal pertama yang terpenting saat ini adalah anaknya mau bersekolah di tempat yang sudah dipilihkan dan bisa merasa nyaman. Kalau sudah nyaman, insya Allah semua pembelajaran yang diberikan sekolah bisa efektif. Untuk saat ini kami memilih Spring Garden School. Entah bagaimana tahun depan atau seterusnya, apapun pilihan kami semogaaa bekal yang kami kasih sejak dini bisa bermanfaat untuk kamu sampai akhir hayatmu ya sayang. Doain mama papa banyak rezekinya yaa, biar bisa sekolahin kamu yang tinggiiii, dan bisa kasih pendidikan yang terbaik untuk Dika. Yeaaaaayyyyy Adika siap sekolah!!!!! 🙂

Bukan Manusia Sempurna

Hallo! Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Hari ini adalah Ramadhan hari ke-4. Dan baru hari ke-4 tapi udah banyak penggalauan nih setiap subuhnya. Kalau penggalauan menuju kebaikan ga papa lah yaa.

Seperti subuh ini, saya merasa tertohok oleh 2 hal yang dibahas bersama suami saat sahur tadi. Hal pertama tentang cara mendidik anak saya, dan yang kedua tentang sholat malam. Huhu..saya galau sekali nih. Rasanya butuh tempat untuk sharing atau sekedar numpahin curhatan.

Jadi begini, tentang cara mendidik Dika. Udah beberapa hari ini saya sering “ngancem” Dika kalo dia ga mau disuruh melakukan sesuatu. Dan sayangnya saya ga sadar kalau yang saya ucapkan itu termasuk dalam kategori “mengancam”. Misalnya begini :

Saya : Dika, ayo mandi! Airnya udah mateng nih.
Dika  : Udaahh.. Udaahh..
(Entah kenapa belakangan ini Dika selalu susaahhh banget diajak mandi)
Saya : Ya udah, klo ga mau mandi Dika ga usah ikut mama pergi ya nanti.
Dika  : (muka kaget) Ikuuuut.. Ikuuut…
(Trus ambil handuk, tuang air panas, dan langsung gendong Dika ke kamar mandi)

Saya : Dika, ayo pakai sendalnya yang bener!
(Kami mau pergi dan Dika masih berdiri di teras tanpa pakai sandal)
Saya : Ya udah, kalo ga mau pakai sendal, Dika ga usah ikut aja, di rumah aja.
(Saya langsung ngeloyor ke dalam mobil, nyalain mesin mobil, trus duduk di dalam mobil sambil nunggu Dika nyusul)
Dika  : (muka mau nangis) Hhuuaaaa….mamaaaa…mamaaaa… mammmmaaaaaaaa!!!!!!
(Dika teriak sekencang-kencangnya sambil minta saya gendong dia ke mobil)
Saya : (Banting pintu mobil, balik ke teras, pakaiin sandal Dika, trus gendong dia ke mobil sambil ngijinin dia mainan setir mobil sebentar –> kompensasi karna udah dibikin nangis)

Tuh khan, emang saya ngancem ya?? Uhmm..sedikit mengancam sih memang. Abisnya saya bingung harus gimana kalo Dika udah mulai bertingkah (alasan deh). Daripada saya ngomel panjang lebar, capek-capekin mulut, Dikanya juga kasian dibentak-bentak, mending saya “sedikit” mengancam, trus Dika langsung nurut deh. Toh, selama ini suami ga protes.

Tapi, Alhamdulillahnya Allah Swt masih kasih petunjuk sama saya. Petunjuk secara halus yang ga menyinggung saya (mengingat saya malah ga mempan kalo ditegur langsung). Agar saya ga nerusin cara mendidik dengan mengancam ini.

Puncaknya sih karna semalam, Dika keasikan main iPadnya suami. Padahal udah jam 10 malam. Akhirnya suami ambil iPadnya, trus nyuruh Dika tidur. Tiba-tiba Dika langsung nangis kejer. Sebelum dia keburu teriak-teriak (trus akhirnya kedengeran orang se-cluster), saya langsung suruh dia diem, trus saya bilang kalo Dika ga mau diem dan ga mau tidur, mending papa sama mama tidur di kamar Dika, dan Dika tidur di kamar mama papa sendirian. Saya ulang-ulang terus sampai Dika dengerin. Eh tiba-tiba mukanya Dika sedih, trus langsung peluk saya dan nangis di dada saya. Huhuhuu..drama banget deh kejadiannya. Yang kayak gini nih yang suka bikin saya nyesel udah nyakitin hatinya.

Nah, pas sahur tadi, saya bilang sama suami klo saya kasian liat Dika semalam. Ga disangka jawaban suami panjang lebar, katanya seharusnya saya ga ngancem-ngancem Dika begitu. Kasian Dikanya nanti malah ketakutan, malah ngelemahin Dika. Jleb! Langsung brasa deh di hati jawabannya itu. Suami yang selama ini diem aja liat saya ngancem Dika, ternyata sebenarnya ga setuju. Mungkin dia nyari celah yang tepat kali ya untuk ngingetin saya.

Abis itu langsung deh saya mikir panjaaaangg dan menyesal bangetttt. Saya nyesel udah (lagi-lagi) nyakitin hati Dika, dan saya mikirin cara lain yang lebih efektif untuk gantiin teknik mengancam ini saat Dika lagi susah diatur.

Kuncinya sih, harus jauuuuuhhhh lebih sabar. Ya Allah…stok sabar seorang ibu tuh mesti unlimited kali ya. Karna kalo salah didik sedikiit aja, akibatnya bisa fatal untuk jangka panjang. Aduhhh..maafin mama ya Dika.. Mudah-mudahan bisa ketemu cara lain yang lebih baik untuk mendidik Dika.

(Abis itu langsung pelukin Dika, ciumin Dika, yang keliatan polos banget kalo lagi tidur, tapi yang diciumin malah menggerung marah karna tidurnya diganggu, hihihi)

Hal kedua, tentang sholat malam. Tiap sebelum sahur di bulan Ramadhan. Suami sering sholat malam, begitu pun dengan saya (walopun masih suka jarang-jarang karna mata berraattt banget dibuka, hhe). Dan sejak kami nikah 3 tahun yang lalu, saya tuh bingung (plus penasaran), suami kok klo sholat malam bisa berkali-kali ya sholatnya. Itu sholat apa aja? Karna klo saya sendiri cuma 2 kali sholat, yang pertama tahajud 2 rakaat, dan yang kedua witir 3 rakaat. Akhirnya setelah 3 tahun penasaran dan ga berani nanya, sahur tadi saya beraniin diri buat nanya.

Knapa mesti ga berani ya? Khan suami sendiri. Humm..jujur klo urusan ibadah pribadi saya agak segan nanya-nanya ke suami saya. Takut berkesan kepo banget. Itu khan hubungan pribadi suami dengan Allah Swt.

Saya : Tadi tuh kamu sholat apa aja sih? Kok banyak banget. Sama witir juga ya? Khan kata ustad semalam witirnya ga usah lagi ya klo udah witir abis tarawih.
Suami : Sholat hajat, sholat tobat, sholat tahajud. (Singkat, padat, jelas inih jawabannya)
Saya : (langsung diem, ga berani nanya apa-apa lagi, dan langsung berasa jleb di hati)

Ya Allah…ternyata selain sholat tahajud, suami juga sholat tobat dan sholat hajat di bulan Ramadhan. Sempat agak terlintas pikiran “ih kok suami ga bilang-bilang saya sih kalau sebelum tahajud sebaiknya sholat tobat juga“. Tapi lagi-lagi saya ngingetin diri bahwa ini urusan suami dengan Allah Swt.

Uhmm..tapi sebagai imam saya, seharusnya dia berbagi juga ya sama saya, apa yang sebaiknya dilakukan. Istilahnya, kalau mau cari pahala dan ampunan sebanyak-banyaknya, harusnya ajak-ajak istri juga dong, jangan cuma buat diri sendiri aja. Hehe, saya ga bermaksud menghakimi suami ya disini. Toh dalam beberapa hal tentang Islam, dia masih suka sharing kok sama saya. Saya sendiri ga ngerti baiknya gimana, ibadah buat pribadi aja, atau mesti ajak istri juga.

Apapun itu alasannya, dari hasil jawaban suami yang singkat, jelas, padat tadi bikin saya ngerasa ngenes. Saya jadi berdialog dengan diri sendiri.

“Tuh Dian liat suamimu, dia yang sehari-harinya amal ibadahnya jauuuhhhh lebih banyak dari kamu aja masih sholat tobat tiap malam. Masa kamu yang dosanya jauuuuhhhh lebih banyak malah ga sholat tobat.

Huhuhuuu…langsung galau saya. Kalo inget akhirat tuh rasanya merinding. Antara mimpi dengan kenyataan. Haduh Ya Allah.. Makasih atas petunjuknya, Ya Allah.. Semoga ibadah saya jadi makin rajin, dan yang paling penting semua dosa-dosa saya terdahulu bisa terampuni. Karna dosa saya banyak banget, besar banget, bisa nangis semalaman deh klo diinget-inget 😦

Semoga api neraka ga berani nyentuh saya. Semoga surga membuka pintunya lebar-lebar untuk saya. Semoga saya, suami saya, anak saya, orang tua saya, adik saya bisa selamat dunia dan akhirat.

Dan semoga besok malam dan seterusnya mata saya ga berat lagi ya untuk bangun sholat malam 🙂

Sulitnya ikhlas

Ya Allah..ikhlas itu sulit ya. Rasanya kok nyess banget. Tapi bagaimanapun persoalan ini harus diselesaikan. Walaupun harus mengorbankan sedikit kenikmatan dunia. Yah, saya harus memilih. Nikmat dunia? Atau nikmat akhirat?

Daripada nantinya akan jadi penghambat saya untuk masuk surga. Insya Allah semoga Allah mengizinkan saya masuk surga-Nya. Bersama dengan orang-orang tercinta saya.

Heuffh, walopun saya agak mangkel karna seharusnya bukan saya yang menyelesaikan persoalan ini. Tapi yasudahlah. Mau bagaimana lagi? Ga mungkin saya mengejar-ngejar orang itu hanya demi menyelesaikan masalah ini. Buang-buang waktu saya aja. Ini juga harus diikhlaskan. Harus!

Bismillah Ya Allah.. Kuatkan niat saya untuk menyelesaikan ini. Lancarkanlah semuanya hingga tuntas. Agar persoalan ini ga menghambat kehidupan saya di dunia ini, ataupun kehidupan saya di akhirat nanti. Semoga saya bisa ikhlas sepenuhnya..

My 28th birthday

Hallloouww.. Udah lama saya ga nulis nih. Udah 2 bulan lebih (emang ada yang baca? Hihi). Postingan kali ini mau cerita soal ulang taun. Ulang taun sapa? Ulang taun saya donk.. Yang ke-28. Masih muda khan yaa?? Iya khan?! (Maksa!)

Ulang tahun kali ini banyak hikmah yang didapet. Sebenernya sejak taun kemarin sih. Waktu semalam sebelum ultah tiba-tiba papa kena stroke ringan. Sejak itu jadi brasa harus lebih care sama papa (walopun tetep diem2), dan mulai concern deh sama makanan yang kadang suka ga dikontrol.

Nah, ulang taun kali ini, justru saya yang dipaksa tubuh untuk lebih care sama pola makan. Gimana ga harus care? Saya sempet sebulan lebih kena diare akut yang akhirnya terdiagnosa usus buntu kronis, yang berakibat saya harus dioperasi tepat seminggu sebelum saya ultah.

Humm, pengalaman operasi ga akan saya tulis detail disini. Tapi perasaan pra dan pasca operasi itu ternyata membuat saya bisa lebih wise untuk hari ultah saya. Hihi, maksudnya ga kayak anak kecil lagi seperti taun2 sebelumnya, yang suka uring-uringan kalo orang sekitar ga anggap ultah saya spesial.

Beberapa hari sebelum operasi, sampai 30 menit menjelang meja operasi, saya perasaannya ga karuan. Tapi tetep berusaha “sok” tegar. Apalagi ditambah pengakuan dari suami yang ternyata sama khawatirnya dengan saya. Untungnya saya ga cengeng lho. Nangis (bentaar) cuma pas suster tiba-tiba bilang saya harus masuk ruang operasi tepat setelah tes antibiotik yang menyakitkan (beneran sakit bgt).

Alhamdulillahnya saat saya operasi itu ternyata anggota keluarga yang hadir lengkap. Mulai dari papa, mama, bapak, ibu, Tami, Dewi, dan tentunya suami sama Adika. Yaah kurang adik saya sih, Adit. Tapi bisa dimaklumi kok. Karna dia ga bisa ninggalin jadwal pendidikan di kantor barunya. Toh doanya pasti tetep hadir khan.

Nah ini dia yang bikin saya merasa terharu banget. Entah kenapa di saat-saat “genting” kayak gitu. Saya bersyukuuuur banget punya keluarga yang bener-bener perhatian sama saya. Dan saya merasa ga butuh temen-temen yang selama ini saya harap2kan tapi ga pernah bener-bener “hadir” dan ada dalam kehidupan saya.

Pas hari Senin, 29 April 2013. My birthday nih, hehe. Saya pun bisa bangun pagi dengan senyum dan semangat (kayak lagu sm*sh ya, hhe), tanpa harus berharap muluk-muluk untuk ultah saya.

Saya ga berharap suami tiba-tiba peluk cium saya pas bangun pagi sambil bilang happy birthday, saya ga berharap semua anggota keluarga menganggap ultah saya hari yang penting, saya ga berharap dapet kado yang banyak, saya ga berharap temen-temen di facebook rame kasih ucapan, saya ga berharap diperlakukan menjadi princess deh, seperti yang sering saya harapkan selama ini.

Pagi itu saya cuma berharap Allah Swt selalu memberikan saya kesehatan (ga ada operasi2 lagi), umur yang panjang, slalu bahagia sama suami, anak, dan orang tua serta adik2 saya. Itu aja udah cukup dan berarti besar banget.

Eh ga dinyananya, habis mandi tiba-tiba suami cium kening saya sambil bilang “Happy birthday ya sayang, smoga panjang umur”. Udah itu aja? Udah donk. Itu juga udah cukup. Katanya klo ngucapin langsung ga bisa panjang-panjang, tar kayak pidato. Hahaa.. Klo mau ngucapin lewat sms, suami takut saya marah lagi kayak annive bulan Maret kemarin, hihii..

Setelah itu.. Hari berjalan dengan menyenangkan. Dapet ucapan dari papa, mama, Adit (yang kirim kado pake gambar di whatsap. Tagih yaa yang aslii, hhe), Tami, dan sehari sebelumnya udah dapet kado duluan dari bapak, ibu, Tami, dan Dewi. Makasih yaa semuaa.. ^_^ Di facebook ternyata masih ada teman-teman yang menyempatkan diri kasih ucapan. Walopun ada yang cuma nulis “HBD”, tapi tetep berarti banget. Karna setidaknya orang itu masih inget sama saya.

Hari itu saya sengaja ga masak, karna suami janji mau bawain seafood lengkap pulang dari kantor. Dan ternyata ada bonusnya lho. Cake ulang taun!! Yeiyyy.. Heheh.. Katanya ga afdol kalo ga pake tiup lilin. Lagipula suami khawatir saya bakal bete kalo ga ada perayaan kayak gitu. Duduh..mudah2an taun selanjutnya ga berpikiran gitu lagi ya.

Alhamdulillah dengan ga berharap terlalu banyak, saya justru mendapat banyak kenikmatan yang dapat lebih saya syukuri dan lebih dapat saya nikmati. Jadi inget kata mbah Uti yang umurnya udah 80 tahun lebih, katanya kalo mau panjang umur itu resepnya cuma satu, banyak bersyukur. Insya Allah..

Thanks to Allah Swt atas segala nikmatnya sampai di usia saya ke 28 tahun ini. Semoga saya masih diizinkan memiliki umur yang panjang, supaya dapat terus berbahagia dengan suami dan anak-anak. Bisa jadi ibu, istri, anak, menantu, dan kakak yang mendekati sempurna. Dan semoga bisa selamat bahagia dunia akhirat. Aammiinn ya rabbal alamin.. ^_^

20130503-224708.jpg