Goes to wedding annive 2nd years

Menjadi istri, ibu, dan ibu rumah tangga di usia pertengahan 20an adalah pilihan yang saya jalani. Dengan segala resiko dan kebahagiaan yang dirasakan. Tanpa saya sadari ini adalah hal yang saya impikan sejak dulu. Meet my prince charming, dreams wedding, pregnant, and having our cute baby boy. Apalagi yang harus dikatakan selain Alhamdulillah. Bersyukur pada اَللّهُ Swt atas segala pemberian-Nya.

Tapi apapun itu, hidup adalah hidup. Ada masa naik dan turunnya. Bukan hanya dari kondisi yang terlihat dari luar, tapi juga kondisi psikologis kita. Menjelang our wedding anniversary 2nd years, saya mencoba sharing tentang apa yang saya rasakan dalam perjalanan hidup saya sejak menikah dengan “pria terbaik” saya.

.2010.

Bisa dibilang ini salah satu tahun terbaik dalam sejarah kehidupan saya. Menikah, menjadi sarjana Psikologi, hamil, dan melahirkan. Semua itu terjadi di dalam 2010. Berlimpah kebahagiaan, namun banyak juga penyesuaian.

Kalau ada yg bilang masa pacaran dan menikah itu bisa jauh berbeda. Mungkin saya salah satu yg mendukung pendapat tersebut. Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri saat masih pacaran. Namun, apa yang muncul setelah menikah. Itu juga diri saya. Tanpa bermaksud memakai topeng saat pacaran. Tapi memang situasi yang ada bisa mempengaruhi apa yang kita tampilkan.

Mas Agung sering bilang, diri saya waktu pacaran dengan sudah menikah itu beda banget. Yah, apapun pendapatnya, kalimat itu pasti muncul karena melihat perbedaan diri saya. Saya pun berusaha untuk tetap menjadi istri yang terbaik, sekalipun ada perbedaan sebelum dan setelah menikah.

Tahun pertama pernikahan kami diisi dengan penyesuaian antara pribadi masing-masing, berbarengan dengan kondisi emosi saya yang tidak stabil saat menjalani kehamilan, serta penyesuaian antara dua keluarga besar.

Bukan hal yang mudah, terkadang muncul perbedaan pendapat, prinsip, air mata, dan juga emosi yang sulit untuk ditahan. Kami sempat menemui masalah tentang sulitnya mendapat pembantu yang baik, pembagian waktu untuk dua keluarga besar, beradaptasi dengan rumah baru, kebosanan tinggal di rumah karena tidak ada aktivitas lain (untuk saya), dan persiapan menyambut kelahiran bayi yang kadang bisa jadi konflik juga.

Alhamdulillah, kami berhasil menjalani tahun pertama kami, walaupun kami sudah menemui betapa complicatednya hidup berumah tangga. Sayang kami, cinta kami, komitmen kami, semuanya tetap berusaha kami jaga, sebesar apapun masalah yang muncul.

.2011.

Tahun kedua pernikahan kami. Sudah ada Dika yang meramaikan rumah kami. Saya yang tadinya sering bosan di rumah, jadi lebih terhibur dengan adanya Dika. Yaah, walaupun harus dibarengi dengan pengorbanan waktu dan tenaga untuk mengurus Dika. Tapi saya menikmati semua prosesnya.

Komitmen untuk menjadi ibu rumah tangga pun ga mudah. Kadang saya merasa diri “terjebak” di dalam rumah, dan merasa iri dengan teman-teman yang bekerja di luar rumah.

Melakukan parenting juga tidak mudah. Saya dan Mas Agung berusaha menyatukan kepala untuk satu pola pengasuhan yang tepat menurut kami berdua. Selain itu, para orang tua kami juga ingin ikut andil dalam pengasuhan Dika. Dan ga jarang terjadi perbedaan pendapat yang membuat kami (tepatnya saya) menjadi ga nyaman.

Meskipun sudah ada Dika di rumah, terkadang rasa bosan saya masih suka muncul. Dan rasanya ingin sekali bisa beraktivitas di luar rumah. Isu tentang keinginan membuat usaha sendiri untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga juga sering kami bahas di tahun ini. Serta masalah tentang rencana pindah rumah untuk menemukan lokasi yang lebih baik.

Semuanya itu membuat saya dan Mas Agung kerapkali berbeda pendapat, bahkan bertengkar. Tapi kami tetap berusaha untuk mengendalikan diri dan belajar memahami satu sama lain.

Ibaratnya kami berdua sedang menaiki anak tangga. Memasuki tahun kedua, kami menaiki anak tangga kedua. Dimana posisi kami lebih tinggi dari anak tangga di tahun pertama. Dan makin tinggi posisi kita, angin juga makin kencang berhembus kan.

Jadi kami harus semakin mempererat genggaman tangan kami, supaya tetap kuat dan berhasil untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Semua konflik yang muncul, diimbangi dengan kebahagiaan yang semakin banyak pula. Dua bulan setelah Dika lahir, kami akhirnya menemukan pembantu yang cocok untuk keluarga kami.

Satu masalah di tahun pertama, bisa terselesaikan di tahun kedua. Kami juga menikmati perkembangan Dika dari bulan ke bulan. Meskipun ada beberapa hal sulit dalam perkembangan Dika. Tapi menurut kami, Dika tetap tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan semoga bisa menjadi anak yang soleh, disayang dan menyayangi semua orang.

Kira-kira itu yang saya rasakan dalam dua tahun pernikahan saya dengan Mas Agung. Apapun konflik yang muncul, semoga itu bisa menjadi pembelajaran bagi kami berdua. Untuk menjadi suami istri yang lebih baik lagi.

Semakin mengerti dan memahami satu sama lain. Selalu menyayangi dan mencintai. Serta menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kami nantinya. Oya, dan juga selalu menjadi anak yang baik untuk orang tua kami, dan kakak yang baik untuk adik-adik kami.

Harapan saya (dan mungkin juga harapan suami saya) di tahun ketiga dan seterusnya, kami bisa menyelesaikan satu persatu masalah yang muncul di kehidupan kami. Dan semoga bisa semakin menyempurnakan kebahagiaan kami.

Semoga اَللّهُ Swt selalu menyertai langkah kami, dan meridhoi rumah tangga kami. Aamiinn ya rabbal alamin..

Luv u more my hubbby n our lovely cute boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s