Apa ini arti kehidupan?

Saya baru saja pulang dari rumah orang tua saya. Tadinya saya ga ada rencana mampir kesana. Tapi mama minta saya datang untuk menemui tante dan sepupu saya yang baru saja datang dari Purwokerto. Karena mama harus pergi ke Sukabumi untuk melayat orang tua temannya.

Tadinya papa mau ikut, tapi ga jadi karna tadi pagi papa ga enak badan. Mungkin efek semalam pulang agak larut. Makanya saya pikir sebaiknya saya sempatkan datang kesana setelah belanja bulanan siang tadi.

Seperti kedatangan saya di hari-hari sebelumnya. Selama di rumah orang tua saya, Mas Agung akan sibuk melakukan aktivitasnya di kamar, sementara saya sesekali menemani Dika main di luar, atau menemani Mas Agung di kamar.

Karna mama lagi ga ada di rumah, Dika main sama papa. Tapi lebih seringnya sih sama tante dan sepupu saya. Papa sempat tidur sore karena ga enak badannya itu.

Rencananya saya mau pulang setelah maghrib, setelah makan malam dulu. Tapi saat mau makan malam, tiba-tiba papa nawarin pesan pizza. Tumben banget, pikirku. Aku menolak dengan halus, karna ga enak juga papa tiba-tiba mesti beliin pizza, padahal habisnya bisa lumayan banyak.

Akhirnya papa nawarin aku untuk pesan lauk tambahan di restoran dekat rumah. Aku menangkap sinyal kalau papa ingin kami lebih lama lagi di rumah.

Humm..ya sudah aku pesan udang saos mentega ditambah kwetiau untuk Kin. Kupikir ga apa-apa lah tunggu sebentar sampai makanannya datang.

Setelah makan malam, kami sholat Isya lalu pamit pulang. Sebelum pulang, aku rasanya pengin banget nanyain papa, “Gimana sakitnya? Udah minum obat belum?“. Tapi kok rasanya susah banget yah. Aku tuh pengin banget nunjukkin perhatianku. Biar aku ga dianggap “lupa” sama papa mama walaupun udah married.

Tapi karna mereka ga terbiasa menunjukkan perhatian secara langsung, aku juga jadi jengah rasanya kalau harus “say caring words” kayak gitu.

Sepanjang perjalanan pulang aku jadi kepikiran. Aku ga enak sama papa. Dan aku jadi agak nyalahin mama yang udah seharian ke Sukabumi tapi ga pulang-pulang. Padahal di rumah suaminya lagi sakit. Aku jadi suudzon menyangka mama pasti ga cuma ngelayat, tapi sekalian jalan-jalan (aduh maaf ya ma..).

Untung aja di rumah orang tuaku lagi ada tante dan sepupuku. Jadi papa ga sendirian. Kayaknya ngenes banget liatnya. Lagi ga enak badan, tapi istrinya dan dua anaknya ga ada di rumah. Aku emang sudah pisah rumah sejak nikah. Kalau adikku kuliah di Bandung dan minggu ini lagi ga pulang.

Berawal dari rasa ga enak sama papa, aku jadi mikir.

Apa itu yang akan dialami manusia dewasa yang sudah beranjak tua?

Ketika anaknya satu persatu mulai meninggalkan rumah menuju kehidupan sendiri.

Apa yang kira-kira dipikirkan papa sekarang?

Apa yang dirasakan papa sekarang?

Untungnya papa masih kerja, masih punya kehidupannya di kantor, bersama teman-temannya, yang mungkin bisa lebih menceriakan hari-harinya.

Tapi gimana kalau papa nanti udah pensiun?

Sementara mama mungkin masih bisa kesana kemari sama teman-teman mainnya. Hufft, kalau boleh aku minta sih, semoga nanti mama akan slalu nemenin papa dan ga ninggalin papa sendirian lagi di rumah.

Kalo mau pergi, ya ajak papa juga. Toh teman-temannya kan juga suka ngajak suaminya. Duuh maaf ya ma, aku ga bermaksud buat ngatur.

Apa setiap manusia akan mengalami ini ya?

Ketika muda, dewasa, menikah, punya anak, menikmati kehidupan, menyayangi anak-anaknya, membesarkan anak-anaknya, lalu mengantarkan anak-anaknya menikah, dan akhirnya kesepian di masa tua.

Waktu nulis blog ini ada Dika di sampingku. Aku jadi mikir. Bagaimana ya nanti kalo Dika udah nikah? Apa aku dan Mas Agung akan kesepian juga?

Yah..aku berharap اَللّهُ Swt akan memberikan kami umur panjang, bersama pasangan kami. Papa sama mama, bapak sama ibu, dan aku sama Mas Agung.

Agar nantinya kami dapat saling menemani di masa tua. Ga ada yang kesepian, ga ada yang sendirian. Saling jaga, saling memperhatikan, dan saling sayang.

Sehingga kami akan lebih ikhlas melepas anak-anak kami untuk menjalani kehidupan barunya setelah menikah. Bersama-sama mengaktualisasikan diri kami di masa tua.

Apa ini arti dari kehidupan?

Dan saya ga tahu kenapa saya segloomy ini malam ini..

4 thoughts on “Apa ini arti kehidupan?

  1. saya sering baca atau menyaksikan ‘skenario’ kehidupan masa tua seperti ini. memang sedih kalo memikirkan orangtua kita yang sudah berusia senior, dengan ketakutannya akan kesepian. tapi sebagai anak kita mungkin bisa selalu menunjukkan dukungan, dan bahwa beliau/mereka tidak sendiri. bahwa ada banyak kesempatan yang masih harus melibatkan mereka dalam kehidupan kita.

  2. Hey, thanks for comment. Saran yang bagus🙂 Hopefully, smua “anak2” yang sudah besar dan punya kehidupan sendiri masih bisa meluangkan waktu untuk orang tuanya (saya juga jadi tersentil ini =p). Btw, saya setuju dengan kalimat terakhir.

  3. kaLo ortu atw sodara lagi sakit, bawaanx ingin dirumah sj, walaupun ada kegiatan penting..
    Tak tega tinggalin, nti knapa2,. :-(:-(
    Salam kenaL mbak. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s