Sebelum pindahan rumah

Insya Allah dalam waktu dekat ini saya sekeluarga akan pindahan rumah dari rumah yang sekarang (Villa Nusa Indah, Bogor) ke rumah baru (Jababeka, Cikarang).

Alasan pindah rumah ini sebenarnya banyak. Mulai dari jarak dari rumah Vilani ke kantor Mas Agung lumayan jauh, sering macet, dan bikin Mas Agung kecapean tiap hari, sampai masalah jual beli rumah ini di masa lalu yang agak sedikit bermasalah (dulu mertua yang beli rumah ini untuk Mas Agung, tapi apa masalahnya ga akan saya bahas di sini ya).

Intinya sih, sejak awal tinggal di sini (April 2010), kami udah berencana untuk cari rumah lain yang lebih dekat kemana-mana, dan tentunya pilihan kami sendiri.

Memasuki tahun kedua tinggal di Vilani, kami udah mulai merasa nyaman. Udah berasa homy deh. Saya juga udah ga kesepian lagi, karna udah ada Dika dan ada pembantu yang nginep. Dulu waktu Dika belum lahir saya sering kesepian dan merasa bosan di rumah. Penginnya keluar rumah terus, tapi ga dibolehin keluar sendiri karna lagi hamil.

Sejak Dika lahir, saya boleh naik motor lagi. Saya pun mulai menjelajahi lingkungan Vilani. Saya ke pasar dan ke pusat perumahan yang udah banyak fasilitasnya (banyak restoran, bank, toko buku, sekolah, komplit deh). Saya mulai terbiasa dengan lingkungan Vilani dan mulai menyukai hawa di Vilani. Hawa yang paling saya suka kalau habis hujan. Adem, seger, sejuk. Masih dapet hawanya Bogor deh, walopun sebagian wilayah Vilani udah masuk Bekasi.

Posisi rumah saya di Vilani ternyata lumayan strategis. Dekat ke Cibubur (rumah mertua) dan dekat juga ke Bintara (rumah orang tua saya). Dengan akses tol jorr juga bikin deket kalau mau ke Jakarta. Dari Vilani ke Pondok Indah cuma setengah jam lho kalo ga macet.

Akhirnya isu pindah rumah kami tangguhkan dulu. Kami masih mau kok tinggal di Vilani setidaknya sampai Dika mau masuk SD (karna saya kekeuh pengin Dika sekolah di Jakarta). Lagipula uang kami juga belum cukup untuk beli rumah baru.

Sampai akhirnya di bulan Maret tahun ini. Mertua menawarkan kami untuk pindah rumah. Kebetulan beliau akan dapat rezeki dan rencananya digunakan untuk membeli rumah baru untuk kami. Jadi kalau kami pindah, rumah Vilani dikembalikan ke mertua dan mertua akan menyelesaikan “permasalahan” yang sempat saya singgung di atas.

Karna ada kesempatan mendadak, kami menyambutnya dengan senang hati. Lagipula suami udah sering mengeluh perjalanan rumah-kantor udah semakin macet aja. Lalu kami coba cari-cari rumah baru di daerah dekat pintu tol Bekasi.

Ternyata sulit juga mencari rumah baru yang harganya sesuai dengan uang yang akan diberikan mertua. Untuk standar rumah kamar 3 + 1 selalu ada selisih 100-200 juta dari uang yang akan diberikan mertua. Itupun luas tanahnya lebih kecil daripada rumah Vilani. Yah ga apa-apa, selisih itu akan kami tambah dengan uang kami sendiri.

Kami juga coba mengecek rumah di daerah Cikarang (Lippo Cikarang dan Jababeka). Ternyata harga pasarannya juga sama. Setelah dipertimbangkan semua pilihan yang ada, suami pun memilih rumah di Jababeka. Dengan pertimbangan lokasi yang dekat banget sama kantornya di wilayah Jababeka juga. Dengan begitu kami bisa menghemat pengeluaran untuk transport bulanan.

Errrr…awalnya saya agak keberatan. Ga kebayang aja harus tinggal di Cikarang. Jauh dari Jakarta, jauh dari rumah orang tua saya (mamah ga bisa naik ojek lagi kalo mau main ke rumah saya), dan daerah sekitarnya juga masih banyak kampung. Untungnya Jababeka adalah satu wilayah besar sejenis kota mandiri yang semua fasilitasnya ada di dalam wilayahnya.

Pilihan kami adalah sebuah rumah tipe 70 dengan luas tanah 120 di Cluster Simprug Garden, Jababeka. Kesan pertama saat meninjau rumah. Lingkungannya masih sepi. Belum ada penghuninya (maklum cluster baru). Dan rumahnya..kok kecil banget yah. Baru masuk pintu depan terus jalan beberapa langkah tau-tau udah sampai teras belakang. Uhmm…dududu, jadi ragu deh saya. Tapi, suami udah suka banget. Udah pas katanya, dari lokasi dan harga rumah.

Kunjungan kedua kalinya untuk meninjau rumah, saya coba untuk meyakinkan diri. Saya celingak celinguk sepanjang jalan Jababeka. Berusaha ambil sisi positifnya. Ternyata walaupun di sekitar cluster masih sepi tapi sebentar lagi pasti rame, soalnya akhir tahun ada pintu tol baru yang akan dibuka di dekt gerbang cluster. Untuk pusat keramaian di Jababeka ada wilayah yang namanya Pecenongan (kayak di Jakarta yah), yang udah rameee banget banyak toko-toko dan tukang makanan yang mangkal di depan ruko Roxy (lagi-lagi kayak di Jakarta).

Selain itu, lokasi dari cluster ke kantor suami juga deket banget. Awalnya dia malah mau ke kantor naik sepeda, tapi diralat naik sepeda motor setelah diliat-liat lagi kalo naik sepeda bisa sejam nyampenya, hehe. Kalo naik motor paling cuma 15 menit. Dengan begitu, waktu suami untuk saya dan Dika akan makin banyak. Suami juga bisa lebih sehat hidupnya karna sempat olahraga dan ga stres akibat macet tiap pulang kantor.

Yah, dengan berbagai positivisme tersebut, saya pun menerima keputusan suami untuk pindah ke Jababeka. Toh rumah Vilani masih ada, kalo ga betah atau Dika udah mulai sekolah tinggal balik lagi, hihi..

Tiba-tiba awal bulan Juni ini mertua nyaranin kami coba pasang iklan untuk menjual rumah Vilani. Yaah mau dijual yaah. Hehe yasudahlah ya . Khan udah dapet yang baru di Jababeka. Ga tahu diri amat, haha..

Suami juga setuju untuk coba menjual rumah Vilani. Setidaknya kami ga ada beban sama mertua, dan uang hasil penjualan bisa dikasih ke mertua untuk mengganti uang pembelian rumah di Jababeka.

Saya pikir pasti ga gampang jual rumah Vilani. Harga yang ditawarkan lumayan lebih tinggi daripada harga pasaran. Walopun rumah Vilani berada di jalan utama, tapi lingkungan majemuk di sekitarnya bikin agak susah kalau mau bangun usaha di rumah ini. Jadi ga bakalan jadi nilai tambah.

Tanpa diduga, ada tetangga kami yang berminat membeli rumah kami. Ga usah pake susah tawar menawar, dengan sekali pertemuan langsung deal. Tepatnya hari Minggu kemarin. Wah, suami semakin lega. Kalau begitu impas khan jadinya. Malah rencananya uang penjualan rumah Vilani akan langsung dipakai untuk pelunasan rumah Jababeka. Jadi mertua ga usah keluarin uangnya.

Besok (Jumat, 8 Juni 2012) pembeli rumah Vilani akan melunasi uang pembeliannya. Dan malamnya kami ke notaris untuh mensahkan kepemilikan rumah Vilani di tangan pembelinya.

Tiba-tiba, malam ini, saat saya menjelang tidur sambil memandangi langit-langit kamar, timbul perasaan sedih karna akan meninggalkan rumah Vilani.

Rumah ini, rumah yang kami tempati sejak awal kami menikah. Banyak suka dan duka ada di sini. Banyak kenangan di sini. Bahkan ari-ari Dika pun tertanam di sini. Ah, kenapa saya jadi melankolis begini.

Tapi, secara logika pun sebenarnya banyak kelebihan rumah Vilani. Luas tanahnya lebih besar daripada rumah Jababeka. Kamar utamanya luas plus kamar mandi pribadi (di Jababeka kamarnya cuma 3×3 meter, kamar mandinya di luar). Taman belakang luas ada kolam ikannya (seperti impian saya dulu). Sedangkan di Jababeka taman belakangnya kecil dan akan habis dipakai untuk bikin dapur.

Kamar pembantu di Vilani ada di atas sendiri, jadi baik majikan dan pembantu sama-sama punya privacy. Taman depannya luas. Ada garasi dalam untuk naruh motor (di Jababeka ga ada).

Kali lagi males masak banyak restoran yang bersedia delivery tanpa batas minimum (di Jababeka minimal 50ribu). Mau ke pasar deket. Penghuninya udah banyak. Mau ke salon tinggal loncat ke sebrang rumah. Mau ke Jakarta deket (setidaknya lebih dekat dibanding dari Jababeka). Ibu saya bisa dateng seminggu sekali sambil naik ojek (kalo ke Jababeka mesti lewat tol, mana ada ojek masuk tol). Pokoknya udah homybanget deh.

Kekurangannya cuma satu : kejauhan dari kantornya suami. Makin hari makin macet. Suami pulangnya jadi sering telat dan sampai rumah udah stres, bete, capek. Tuh kasihan juga khan.

Huahhhh…saya galau nih jadinya. Besok rumah Vilani bukan milik kami lagi. Huhuhu..

Tapi saya coba melawan semua rasa galaunya. Saya ingat dulu waktu mau kuliah saya ga mau kuliah di luar kota untuk ambil Kedokteran, karna terlalu cinta Jakarta. Seandainya dulu saya ga begitu, mungkin sekarang saya udah jadi dokter. Seperti impian saya sejak kecil.

Itu dia yang jadi acuan saya sekarang. Saya ga mau takut dan ragu pindah ke Jababeka karna terlalu cinta sama rumah Vilani atau karna lokasinya yang lebih dekat sama Jakarta (Jakarta melet saya kali ya). Siapa tahu dengan pindah ke Jababeka, kehidupan keluarga kami yang sudah baik akan semakin baik lagi. Siapa tahu kami bisa bikin usaha sendiri seperti rencana kami beberapa bulan ini yang selalu tertunda.

Bahkan suami sempat nawarin saya kuliah S2 kalo ada Psikologi di President University Jababeka (sayangnya ga ada). Lagipula saya khan udah kursus setir mobil. Siapa tahu saya bisa lebih mandiri karna harus berani nyetir mobil Cikarang-Bekasi pp kalo mau main ke rumah orang tua saya saat suami lagi kerja, hehehe..

Ya sudaahh, terima terima terima. Insya Allah semuanya berjalan baik dan akan semakin baik untuk keluarga kami. Amin..

Ps : Eh, tapi kalo saya mau lahiran adek2nya Dika masih bisa di Jakarta khan ya? (teteup Jakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s