Kesuksesan untuk saya

Mungkin iri dan dengki akan selalu ada, selama saya belum bisa mensyukuri sepenuhnya hidup saya. Selama saya masih “terusik” dengan berita-berita tentang teman-teman saya yang berhasil dan sukses dalam hidup mereka. Sementara saya hanya stuck di rumah dan tidak berkembang sedikit pun.

Segala kesuksesan mereka menutup mata saya terhadap segala yang sudah saya miliki sekarang. Keberhasilan mereka kuliah S2 sampai menjadi psikolog yang sebenarnya, kesuksesan di tempat kerja dengan segala gaya hidupnya, bahkan sampai ada yang terkenal di kalangan para pengusaha muda karena keterampilan mereka “menguasai” manusia. Saya ga seharusnya seperti ini. Saya ga boleh seperti ini.

Seringkali suami saya bertanya, “Apa sih yang kamu cari?“. Baginya, kesempurnaan seorang wanita bukan dilihat dari kesuksesan dalam bekerja, atau harga diri yang tinggi di mata orang banyak. Kesempurnaan seorang wanita adalah sempurna di mata suaminya. Menjadi istri dan ibu yang baik, taat pada suami, menjadi wanita solehah yang selalu ingat pada Allah Swt, dan mendapat ridho sepenuhnya dari suami. Itu pandangan suami saya.

Dari dua arti kesuksesan yang bertentangan itu kadangkala mengganggu ketenangan malam-malam saya, seperti sekarang ini. Sejujurnya saya ingin bisa merasakan kesuksesan di dunia kerja seperti teman-teman saya. Dapat menghasilkan sesuatu, sesuatu untuk diri saya dan keluarga saya. Ga seperti sekarang, bisanya cuma ngabisin uang bulanan aja.

Tapi….tapi….kalau saya renungkan lebih dalam. Meresapi relung hati saya, melibatkan rasa cinta kasih yang saya miliki. Sebenarnya, saya sudah mencapai “kesuksesan” sendiri. Saya berhasil memiliki suami sesempurna suami saya. Saya berhasil memiliki anak sesempurna anak saya. Sementara teman-teman saya yang lain, mereka yang sukses di dunia luar itu, masih banyak yang belum mencapai “kesuksesan” saya dalam membina rumah tangga.

Mereka boleh bangga sebagai individu yang punya karir tinggi, gaji besar, gaya hidup menengah ke atas, dan kebebasan untuk menikmati hidupnya sendiri. Tapi mereka seharusnya iri sama saya yang bisa merasakan pelukan hangat dari suami dan anak setiap malamnya. Saling berbagi cinta kasih bersama mereka. Menjalani hari-hari dan berkembang bersama mereka. Dan menerima gaji yang tak terhingga, yaitu kasih sayang mereka. Tuh khan, ternyata saya lebih sukses dari mereka!

Ya Allah….apa yang sering saya pikirkan stiap iri dan dengki itu muncul? Semoga ga ada doa terucap, doa yang bisa membuat saya kehilangan cinta kasih suami dan anak saya. Sungguh saya ga akan rela menukarkan mereka, cahaya hidup saya, penyejuk jiwa saya, penerang jalan saya, dengan gaji setinggi apapun di dunia ini. Dengan harga diri setinggi apapun di dunia ini.

Saya sudah sepatutnya bersyukur diberi kepercayaan untuk hidup bersama mereka, Mas Agung dan Adika. Maafkan saya Ya Allah.. Atas segala ketidakbersyukuran saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s