Hidup

Hidup itu aneh ya. Membingungkan bagi saya. Banyak hal yang terjadi dan membuat hidup semakin berproses. Saya ga tahu kali ini mau ngomongin apa. Mungkin tulisan saya kali ini agak ngelantur, tapi saya ingin bicara tentang hidup. Hidup saya, hidup orang-orang di sekitar saya. Sekedar untuk meringankan beban pikiran yang mungkin ga semuanya harus saya pikirkan dengan serius.

Saya adalah wanita berusia 27 tahun yang sudah menikah dan punya satu anak. Hidup saya mengantarkan saya menjadi seorang ibu rumah tangga yang hanya tinggal di rumah dan ga pernah merasakan dunia kerja, karna setelah lulus kuliah saya langsung menikah. Hidup saya bisa dibilang cukup. Namun, seringkali muncul ketidakbersyukuran saya karna rasa iri melihat teman-teman yang sedang menikmati hasil jerih payahnya di dunia kerja. Bagaimanapun, saya ga mau menukar hidup saya saat ini dengan hidup orang lain. Mungkin keadaan saya yang sekarang ini adalah yang terbaik untuk diri saya, yang dapat membuat saya bahagia.

Tiba-tiba saya ingat dengan ibu saya. Mamah, begitu saya biasa memanggilnya. Mamah juga seorang ibu rumah tangga. Saya tahu mamah juga bosan di rumah. Tapi mamah beruntung, mamah masih punya teman-teman bermain sesama ibu-ibu yang tinggal di dekat rumah. Kadangkala saya suka geregetan liat mamah yang hampir setiap hari pergi kesana kemari sama teman-temannya. Bahkan kadang saat weekend pun juga pergi, tapi kalau ini jarang sih. Tapi ya sudahlah ga papa, mungkin ini yang bisa bikin mamah bahagia. Apalagi sekarang setelah saya udah pisah rumah dan tinggal di rumah sendiri bersama suami dan anak saya. Mamah pasti makin kesepian dan bosan kalau siang hari, saat papah sedang kerja di kantor. Adik saya juga kuliah di Bandung dan udah jarang pulang karna sedang mengejar skripsinya. Selama papah ga terbengkalai dan masih dapat terurus dengan baik, saya ga keberatan deh mamah sering pergi “bersenang-senang” dengan teman-temannya.

Suami saya sudah 4 tahun bekerja di salah satu perusahaan farmasi di Cikarang. Beberapa kali suami sempat mengeluhkan kejenuhannya bekerja di sana karena jenjang karir yang ga jelas dan manajemen kantor yang masih belum terlalu baik. Bagaimanapun, sampai hari ini suami saya masih bertahan di tempat kerjanya itu. Tapi bukan karena alasan finansial lho. Bukaaann.. Bukan karna kami sudah berkeluarga dan butuh penghasilan untuk hidup. Mungkin itu jadi salah satu alasan. Tapi bukan alasan utama. Suami saya mencoba menerima jalan hidupnya yang saat ini mungkin masih harus bertahan di tempat kerjanya. Berusaha meniti karirnya sebaik mungkin dan memberikan dedikasinya pada perusahaan. Mungkin saat ini di sanalah suami saya diberi kesempatan untuk terus berkembang. Apalagi sejak awal tahun ini suami berhasil lulus untuk mengikuti program pendidikan di perusahaannya. Dengan kontrak mengikat selama 3 tahun, “mau ga mau” membuat suami harus bekerja lebih keras lagi disana. Tapi saya tahu, suami saya mencoba menjalaninya dengan ikhlas. Untuk dirinya, dan untuk keluarganya. Yaahh walopun kadang saya suka ketar ketir sih karna mayoritas teman kerjanya itu perempuan. Saya akan menjaganya sebaik mungkin. Tanpa mengganggu kinerja suami saya. Insya Allah saya akan selalu percaya sama suami saya. Tapi kalau sama orang lain, humm rasanya sulit. Semoga aja ga ada yang macem-macem yah sama suami saya. Atau harus berhadapan langsung sama saya. Hahaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s